PERISTIWA TERBUNUHNYA KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN

Usman bin Affan berasal dari suku Quraisy, segaris keturunan dengan Nabi Muhammad SAW melalu jalur Abd al-Manaf. Usman bin Affan merupakan sosok sahabat Nabi yang sangat populis dan tampan serta dermawan. Terbukti Usman bin Affan memberikan 940 ekor unta, 60 ekor kuda, dan 10.000 dinar untuk keperluan perang Tabuk. Beliau juga berjasa dalam pengkodifikasian al-Qur'an menjadi mushaf sebagaimana yang dibaca sekarang oleh jutaan manusia di dunia.

Periode pemerintahan Usman bin Affan dibagi menjadi dua periode, yaitu periode kemajuan dan periode kemunduran. Periode kemajuan pada pemerintahan Khalifah Usman bin Affan membawa kemajuan luar biasa. Berkat jasa para panglima yang ahli dan berkualitas, peta Islam sangat luas dan bendera Islam berkibar dari perbatasan Aljazair (Barqah dan Tripoli, Syprus di front al-Maghribi sampai ke Tunisia), di utara sampai ke Aleppo dan Sebagian Asi Kecil, di Timur Laut sampai ke Transoxiana, dan di Timur seluruh Persia, bahkan sampai ke perbatasan Balucistan (wilayah Pakistan sekarang), serta Kabul dan Ghazni. Selain itu, beliau berhasil membentuk armada laut dengan kapalnya yang kokoh dan menghalau serangan-serangan di Laut Tengah yang dilancarkan oleh tentara Byzantium dengan kemenangan pertama kali di laut dalam sejarah Islam.

Namun di periode II kekuasannya identic dengan kemunduran dengan berbagai huru-hara dan kekacauan yang luar biasa hingga wafat. Dimana Usman bin Affan dinilai sudah melakukan nepotisme, yakni ia tak sanggup menentang ambisi keluarganya yang kaya dan berpengaruh. Ia mengangkat sanak saudaranya dalam jabatan-jabatan strategis yang paling besar dan paling banyak sehingga menyebabkan suku-suku dan kabilah-kabilah lainnya merasakan ketidakadilan tersebut. Adapun para pejabat negara semasa Usman yang berasal dari keluarga sendiri yang tidak mampu dan tidak cakap sebagai pengganti pejabat sebelumnya diantaranya : Muawiyyah bin Abi Sofyan sebagai Gubernur Syam, Abu Musa Al-Asy'ari yang mengepalai Basrah kemudian diganti dengan Walid bin Uqbah, saudara tiri Usman. Kemudian Usman juga mengangkat Sa'id bin 'Ash sebagai pejabat, dia adalah saudara sepupu Usman yang kasar dan memihak kepada kepentingan keluarga Arab, dimana rakyat protes karena ia menciptakan jurang antara Arab dan Non-Arab yang menjadikan banyak rakyat pribumi menjadi kehilangan tanah dan mata pencaharian.

Akan tetapi, berdasarkan fakta sejarah yang ada, Usman bin Affan tidak serta merta mengangkat sanak saudaranya menjadi pejabat negara hanya karena keluarganya, namun juga karena pertimbangan bahwa mereka mampu. Berikut adalah alasan Usman bin Affan memilih Muawiyyah bin Abi Sufyan sebagai Gubernur Syam dikarenakan beliau adalah seorang kepala daerah yang diangkat oleh Umar atas kecakapan dan kemampuannya. Sewaktu menghadapi tentara Bizantium dalam berbagai peperangan di front Utara, ia menunjukkan keberhasilan yang luar biasa. Selanjutnya pergantian Abu Musa al-Asy'ari di Basrah oleh Abdulllah bin Amir karena Al-Asy'ari tidak disukai lagi oleh rakyatnya. Al-Asy'ari selaku panglima dalam menatar tentaranya menjelang pemberangkatan pasukan Islam ke wilayah Kurd (Iraq Utara) berpidato : "Kita harus hemat dan tidak boleh boros dalam menghadapi musuh di medan tempur karena mubadzir tidak disukai Allah dan Rasul-Nya." Ternyata saat Al-Asy'ari memimpin perang , ia memakai jubah yang amat mahal harganya dan kuda yang ia naiki juga hargannya yang paling tinggi. Jadi apa yang ia ucapkan tidak sama dengan apa yang ia perbuat. Selain itu ia juga dikenal sebagai seorang panglima yang kikir dan diklaim rakyat Basrah, ia bersikap berat sebelah, "mengutamakan orang Quraisy atas pribumi." Akhirnya dengan pertimbangan keluhan rakyat terpilihlah Abdullah bin Amir sebagai penggantinya. Usman menunjukkan sebagai gubernur Basrah setelah ia berhasil dalam penaklukan daerah Persia.

Usman memang mengangkat Sebagian kepala daerah dari keluarga dan telah diakuinya. Namun setelah terbukti ada keluarganya yang melakukan kesalahan, seperti Walid bin Uqbah. Usman berani menghukumnya bahkan memecatnya. Ini membuktikan bahwa Usman tidak memandang Walid bin Uqbah sebagai keluarganya dan tidak dibelanya. Ini menjadi bukti bahwa Usman tidak melakukan nepotisme. Akan tetapi, Usman mengangkat saudara-saudara atas dasar profesionalisme kinerja mereka di lapangan, namun pada masa akhir kepemimpinan Usman, para gubernur yang diangkat tersebut bertindak sewenang-wenang terutama dalam bidang ekonomi. Oleh karena itu, banyak rakyatnya yang merasa kecewa dan menganggap hal tersebut sebagai kegagalan Usman. 

Dampak final dari ketidakpuasan terhadap pemerintahan Khalifah Ustman bin Affan adalah sebuah pemberontakan. Otak utama dari pemberontakan ini adalah Abdullah bin Saba'. Dia adalah seorang Yahudi asal Yaman, yang masuk Islam saat Utsman berkuasa memainkan peran yang sangat signifikan dalam menggerakan masyarakat untuk mengadakan pemberontakan. Akibat ulah pemberontakannya ini, dia diusir dari Basrah dan Kuffah. Namun, dia berhasil ke Syiria dan bertemu dengan Abu Dzar, kemudian mengajaknya untuk bergabung dengan dirinya. Mua'wiyah Kembali mengusirnya ke Syiria. Dia kemudian berangkat menuju Mesir, karena tempat itu dianggap lebih kondusif untuk menanamkan bibit pemberontakan. Dia membentuk sebuah kelompok rahasia yang mampu menghimpun banyak pengikut dan pendukung. Dengan licik ia mengeksploitasi perbedaan yang ada di dalam masyarakat Islam, dan dengan cara inilah dia memecah belah umat. Dia gemar dengan perilaku ambigu dan ambivalence, menyebarkan fitnah, isu jahat, dan kecurigaan. Dia tampak memosisikan diri dengan orang-orang yang lemah, tertindas dan dengan secara besar-besaran mengekspos korupsi dan nepotisme yang ada di pihak pemerintah.

Berbagai surat disebar atas nama Ali, Thalhah, dan Zubair, yang berisi ajakan kepada rakyat di berbagai provinsi untuk menurunkan kekuasaan Utsman. Orang-orang Badui Mesir, Kuffah dan Bashrah semuanya bergerak untuk menentang otoritas kekuasaan Khalifah yang mereka tuduh telah melakukan Tindakan nepotisme, tidak kompeten, dan telah menyimpang dari norma-norma yang telah diberlakukan oleh para pendahulunya. Utsman diminta untuk turun dari kursi khilafah. Gerakan yang dilakukan Abdullah bin Saba' mendapat sambutan dan memberikan tekanan yang demikian hebat kepada pemerintahan Utsman. Puncak dari pemberontakan itu, para pemberontak mengepung rumah Utsman dan merangsek masuk ke dalam rumah Utsman untuk membunuh sang khalifah. Para pemberontak memukul-mukulkan pedangnya kepada khalifah yang saat itu sedang memegang Al-Qur'an. Mereka memukulkan pedang-pedang mereka ke tubuh khalifah yang akhirnya wafat dan terjatuh ke lantai.  Kematian Usman bin Affan belum diketahui siapa yang membunuh, akhirnya terjadi fitnah al-Kubra atau Fitnah besar.